WELCOME



Oleh : AGUS FATONI
Manager Operasional & Human Capital Bank Mu’amalah Cilegon

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”


Kalimat diatas sudah tidak asing bagi kita, bahkan anak kecil sekalipun sudah bisa mengingatnya diluar kepala sambil berlari-lari. Itulah bunyi bait ketiga dari Pembukaan (Preambule) Undang-Undang Dasar negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kalimat itu juga sering dibacakan pada saat upacara-upacara kemerdekaan RI setiap tahunnya tanggal 17 Agustus, atau saat apel pagi dan sebagainya.
Seperti biasanya bangsa Indonesia akan merayakan hari di mana bangsa ini lahir dengan membawa kemerdekaannya, tepatnya tanggal 17 Agustus. Sekarang negeri ini sudah memasuki usianya yang ke-71 Tahun (1945-2016). Berbagai macam kegiatan diadakan mulai dari perlombaan, bakti sosial, atau kerja bakti di kalangan masyarakat hingga kalangan pejabat, baik di desa-desa maupun kota-kota besar di seluruh nusantara ini.
Tidak ketinggalan sangsaka merah putih pun dipasang di rumah-rumah, di jalan-jalan dan berbagai tempat lainnya dari berbagai ukuran. Begitu juga di kendaraan-kendaraan (bagi yang punya kendaraan) seolah akan menyambut tamu agung dari alam Kahyangan. Begitu meriah perayaan HUT RI tersebut, sehingga ada pula yang menonjolkan kesan kemewahan dan menghambur-hamburkan uang. Jika dikategorikan seorang manusia, maka usia 71 tahun merupakan usia senja, sebab masa produktifnya telah terlewati.
Salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT, kepada kita adalah nikmat kemerdekaan. Betapa tidak, dengan diberikannya nikmat kemerdekaan ini kita bisa melaksanakan berbagai aktivitas.
Namun bagaimana jika bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini tidak mengenyam kemerdekaannya atau taruhlah masih berada pada saat kondisi pra-kemerdekaan. Tidak bisa dibayangkan, betapa tidak enaknya berada dalam penjajahan, makan tak enak tidurpun tak nyenyak. Sungguh begitu nikmatnya kemerdekaan ini. Dengan adanya kemerdekaan pula, kita bisa mengaktualisasikan diri, bisa mengembangkan diri, dan bisa mengemban tugas sebagai Khalifah di muka bumi. Tapi ingat, dengan kemerdekaan (kebebasan) pula manusia bisa terjerumus kedalam kesesatan, kerusakan, dan kebinasaan. Pertanyaannya sekarang, kemerdekaan seperti apakah yang dapat membawa manusia kepada jalan kebaikan? Jawabnya adalah kemerdekaan yang dilandasi dengan Iman dan Taqwa. Sebab sebagaimana disebutkan dalam pembukaan UUD ’45 diatas bahwa kemerdekaan bukan semata-mata hasil perjuangan para pahlawan, atau bukan juga hasil pemberian (hadiah) dari para penjajah, tetapi sebuah Anugrah/Rahmat dari Allah SWT.
Tidak bisa kita bayangkan pula betapa perjuangan Bapak-bapak kita, para pahlawan Republik Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia yang dahulu berjuang demi membela bangsa ini dan mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Mereka rela berkorban harta atau nyawa sekalipun, tanpa kenal pamrih. Sementara kita saat ini yang hanya duduk menikmati lezatnya kue kemerdekaan, lupa akan perjuangan dan jasa-jasa mereka terhadap negara dan bangsa ini. Lihat saja perilaku para penyelenggara negara baik dari kalangan lembaga Eksekutif, Legislative maupun Yudikatif belum mencerminkan seorang Negarawan.
Mereka justru merusak Tatanan Negara yang telah dibangun oleh para pendiri Bangsa ini diatas pondasi yang kokoh dan kuat. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme merebak subur dimana-mana. Aksi-aksi kriminalitas, aksi Teror, Pornoaksi, Prostitusi, Narkoba, Pornografi, Konflik antarumat beragama dan antarsuku merupakan kejadian sehari-hari yang bisa disimak di media massa. Semua itu seolah telah menjadi pemandangan yang biasa bagi kita. Inti dari krisis multidimensi yang dihadapi bangsa ini sebenarnya adalah krisis moral, yaitu akibat dari pengabaian nilai-nilai Moral dan Etika. Krisis moral di negeri ini sudah sangat memprihatinkan.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat memandang telah terjadi penisbian dan pembiaran serta kebebasan nilai moral. Hal itu menjadi perhatian serius MUI. Apakah ini yang dinamakan makna dan Hakikat dari Kemerdekaan? Sungguh bangsa Indonesia semakin lama hanya menjadi bangsa yang carut-marut. Ibarat sebuah perahu yang sedang berlayar mengarungi lautan luas, di perjalanan menghadapi kebocoran sehingga mengakibatkan oleng dan hampir tenggelam ke dasar laut. Di usianya yang semakin bertambah tua ini, coba kita renungkan kembali apakah memang kita sudah benar-benar mensyukuri nikmat kemerdekaan yang di anugerahkan-Nya? Allah Swt berjanji bahwa siapa yang bersyukur pasti akan ditambah nikmatnya. Sebaliknya, siapa yang ingkar terhadap nikmat-Nya niscaya azab Allah SWT sangat pedih. Untuk itu bentuk syukur kita terhadap nikmat Kemerdekaan ini minimal tidak lupa akan Sejarah. Dan kita isi kemerdekaan ini dengan Karya nyata membangun Ummat dan Bangsa dengan segenap kekuatan yang ada pada diri kita, bukan malah menjadi beban bagi bangsa ini. Mari kita ubah pola pikir (Mindset) kita dan seluruh masyarakat dengan prinsip “apa yang telah kita berikan untuk bangsa, bukan apa yang telah bangsa berikan untuk kita”.
Hakikat Kemerdekaan
“Merdeka berarti harus membangun, bukan untuk pribadi atau golongan. Makmur untuk semua, adil untuk semua, hukum pun berlaku untuk semua. Merdeka bukannya bebas tanpa Hukum. Merdeka berarti bersatu membangun. Allah mencintai Ummat yang membangun, Allah membenci umat yang merusak”.
Tidak pernah lupa rasanya dalam benak penulis, semasa kecil yang sering mendengar dan menyanyikan lagu Qasidah ini. Indah benar syair lagu tersebut, seindah gambaran sebuah kemerdekaan yang diisi dengan pembangunan di segala bidang.
Mulai dari kehidupan yang saling tolong-menolong dan mengutamakan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi atau golongan, tegaknya Keadilan dan Makmurnya Bangsa, juga supremasi hukum tanpa pandang bulu. Memang itu hanya sebuah lagu, tapi mengandung arti yang dalam untuk mengisi dan menikmati kemerdekaan.
Mengutip pernyataan Almarhum KH. Husein Umar (DDII Jakarta), “Jika bangsa ini ingin keluar dari kemelut yang berkepanjangan seolah tiada akhir dari penderitaan, kuncinya adalah kembalikan Jabatan sebagai suatu amanah. Sehingga apapun yang menjadi tugasnya merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan dihadapan manusia dan Allah SWT”. Kemerdekaan juga bukan diartikan mulut kita bebas berbicara sesukanya, tanpa tedeng aling-aling atau berbuat sesuka hati dengan dalih Demokrasi. Sebab hal itu akan membawa keburukan, karena jelas akan banyak orang yang terganggu, tersakiti, dan terdzalimi. Kebebasan berbicara kita dibatasi Etika dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Inilah yang saat sekarang hilang dari hadapan kita. Padahal Rasulullah SAW bersabda, “falyaqul khairan Auliyasmuth (berbicara/berbuat yang baik atau diam sama sekali, HR. Bukhari dan Muslim)”.
Dulu bangsa Indonesia dikenal di mancanegara sebagai bangsa yang sopan, suka menolong, dan bergotong royong. Sekarang malah sebaliknya, bangsa ini justru malah dikenal sebagai bangsa yang bengis dan kejam. Padahal sikap-sikap positif inilah yang seharusnya selalu mengiringi gerak langkah kehidupan kita sehari-hari, yang hampir pudar di tengah-tengah kita.
Kadangkala teringat pula akan ucapan baginda Nabi Muhammad SAW, “Di akhir zaman Allah akan mencabut 4 hal. Pertama, Allah akan mencabut berkahnya dari muka bumi. Kedua, Allah akan mencabut rasa iba dan kasihan terhadap orang lain (Rasa kasih sayang). Ketiga, Allah akan mencabut rasa adil dari para penguasa. Keempat, Allah cabut rasa malu terutama dari kaum perempuan”.
Jika kita renungkan kembali ucapan baginda Nabi ini dan kita hubungkan dengan situasi dan kondisi saat ini, ada banyak kemiripan seperti apa yang pernah diucapkannya. Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang Kaya Raya, tongkat kayu jadi tumbuhan, tetapi menjadi negara miskin. Bahkan beras pun harus impor dari negara lain, padahal Indonesia sebagai negara Agraris. Indonesia juga menjadi pengemis abadi kepada lembaga Keuangan yang bernama IMF yang konon merupakan lembaga dunia pemberi bantuan dan tunduk kepada Bangsa-bangsa lain, bahkan dipandang sebelah mata oleh Negara lain.
Kondisi demikian ditambah dengan tidak adanya jaminan keamanan di Negeri ini, karena masih banyak aksi-aksi teror yang mengganggu iklim dunia usaha serta rasa Aman bagi Masyarakat. Sehingga para investor enggan untuk menanamkan modalnya, dan akibatnya pertumbuhan ekonomi pun tidak mencapai titik kemajuan bahkan sebaliknya yang ada hanya kemunduran. Bila kita melihat sering terjadinya kekerasan, baku hantam, tawuran dan sebagainya, ini berarti antar sesama kita sudah tidak ada lagi rasa belas kasihan.
Kita sering menyaksikan aparat penegak hukum yang justru tidak adil dan juga merusak Tatanan Hukum & keadilan. Hukum selama ini hanya berlaku bagi wong cilik. Ibarat sebuah mata pisau dia hanya tajam kebawah, sedangkan keatas dia tumpul. Memang, lebih mudah menangkap ikan teri dari pada ikan tongkol. Akibatnya, masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan aparat penegak hukum. Akhirnya terjadilah apa yang dinamakan “pengadilan jalanan”. Sebab hukum memang sudah mandul. Hanya karena mencuri ayam tetangga, digebuki sampai sekarat bahkan sampai meninggal. Sedangkan koruptor yang jelas-jelas telah mencuri uang negara sama sekali tidak tersentuh hukum alias kebal hukum. Ironisnya, hal ini terjadi di sebuah negara muslim terbesar didunia. Keempat, Allah mencabut rasa malu terutama kepada para kaum wanita. Hal ini bisa dilihat bagaimana para Artis Berpakaian, bergoyang dan goyangannya sudah menjurus kepada pornoaksi. Bahkan aksi mereka lebih parah dibandingkan penyanyi perut di negeri Mesir. Sudah jelas dalam Al-quran bahwa wanita adalah tiang negara. Jika baik wanitanya maka baik pula bangsanya. Tetapi jika buruk akhlak wanitanya maka buruklah bangsanya. Penulis ingin mengetuk pintu hati para pengelola stasiun televisi di Indonesia untuk lebih banyak menyiarkan tayangan yang mendidik dan mendewasakan masyarakat. Sebab tontonan sudah menjadi tuntunan bagi sebagian besar masyarakat baik anak-anak maupun dewasa, terutama di daerah-daerah pedesaan.
Sekarang kita harus mengevaluasi diri kembali, jangan sampai Kemerdekaan atau kebebasan itu menjadikan kita bebas berbuat dosa dan kemaksiatan. Perlu diingat pula bahwa yang namanya kemerdekaan tidak hanya identik dengan kemerdekaan fisik belaka. Ada banyak orang yang merdeka fisiknya tapi terpenjara dan terjajah jiwanya dengan kedengkian, dendam, ambisi, atau nafsu-nafsu buruknya.
Di lain pihak ada pula orang yang secara fisik terpenjara, tapi jiwanya bebas merdeka. Baginya penjara bisa menjadi tempat untuk berkhalwat dengan Allah, menjadi tempat untuk bersungguh-sungguh memperbaiki diri dan menimba ilmu. Kita bisa melihat bagaimana para mujahid di Palestina menjadikan penjara sebagai tempat pengkaderan para mujahid baru. Sehingga ketika keluar dari penjara, keimanan mereka semakin tebal dan bisa menjadi penghafal Al-quran. Tentu yang paling ideal adalah fisik dan jiwa kita merdeka. Fisik bebas dari terali besi dan jiwa juga hati kita terbebas dari belenggu hawa nafsu Ankara murka. Aamiin…